Swiss

Swiss
Engelbergh Juli 2010

Jumat, 13 Agustus 2010

Penerbangan ke Eropa dengan Emirates

Setelah melalui persiapan yang panjang (hampir 7 bulan), akhirnya sampailah kami pada hari keberangkatan menuju Eropa!
Jakarta - Sabtu, 19 Juni 2010
Packing
Pagi hari sejak bangun tidur kami berkemas untuk menyiapkan bagasi. Walaupun sudah disiapkan sejak 2 minggu sebelumnya, tetap saja masih banyak barang-barang yang harus disiapkan untuk kegiatan final packing ini. Kami juga berusaha mengikuti berbagai saran dan tips mengenai packing light dari buku/artikel tentang traveling sebisa mungkin, seperti menggulung pakaian, membawa baju dan perlengkapan lainnya seperlunya, dsb.
• Barang Bawaan
Berhubung kami pergi berempat, kami terpaksa membawa 3 kopor beroda. Selain itu setiap anggota keluarga dilengkapi dengan sebuah backpack yang default-nya berisi jacket, tempat/gelas minum anti tumpah (semacam Tupperware), dsb.
Barang yang dibawa meliputi pakaian, jacket, perlengkapan mandi, obat-obatan, cemilan (kripik singkong, permen, dsb), pop mie, abon, energen, dan… rendang (yang di kemudian hari di Europe ternyata sangat membantu kami dalam hal selera makan). Untungnya lagi, tidak ada pemeriksaan ketat oleh petugas bandara Heathrow, sehingga rendan kami lolos….
Jumlah pakaian yang boleh dibawa untuk setiap anggota keluarga diminimalkan; 2 celana panjang, 3 baju atasan plus underwear.
• Alas Kaki
Sedangkan alas kaki yang kami bawa hanyalah sepatu kets atau sepatu yang nyaman dan kuat untuk jalan kaki. Maklum, sebagai backpacker nantinya kami harus banyak jalan. Ada keinginan untuk membawa sandal, tapi hal itu akan membuat bawaan kami jadi lebih banyak, yang berarti lebih berat.
• Dokumen Perjalanan
Dokumen perjalanan asli yang penting seperti tiket asli pesawat/KA, paspor, travel insurance, dsb juga kami siapkan di tempat tersendiri. Bahkan Papa juga menyiapkan copy dokumen-dokumen tsb dalam file terpisah sebagai back-up.
Saya sengaja menyipakan tas yang banyak memiliki saku kecil beresletting di dalamnya untuk tempat penyimpanan dokumen asli tsb. Begitu juga dengan tas pinggang, kaos oblong bersaku seperti yang digunakan para jemaah haji, ternyata sangat membantu dalam menyimpan uang dengan aman.
• Uang
Sedangkan untuk uang kami siapkan lebih hati2. Sebagian di simpan di dompet, sisanya dibagi di beberapa tempat saku ber-resletting dalam tas Mama dan Papa.
Kami memang membawa banyak uang cash untuk pertimbangan kepraktisan. Kami meyiapkan tiga jenis mata uang, Euro (EUR), Swiss Franc (CHF), dan Poundsterling (GBP). Adapun besaran jumlah untuk masing-masing mata uang kami sesuaikan dengan perkiraan biaya yang akan dihabiskan di negara tsb. sesuai durasi perjalanan.Dalam hal ini tentu saja mata uang Euro-lah yang terbanyak kami bawa.
Namun satu hal yang perlu dicermati adalah, beberapa hari terakhir sebelum meninggalkan suatu negara, sebisa mungkin belanjakanlah uang koin ataupun pecahan kecil mata uang selama masih di negara tsb. agar bila ditukar di Jakarta tidak diberi nilai tukar yang lebih kecil daripada pecahan besar. Pengalaman saya di Jakarta, sisa uang pecahan kecil (< EUR 10), dihargai lebih murah daripada standar nilai tukar pecahan besar. Mungkin hal ini berlaku di semua money changer world wide.
Berangkat dari Rumah Depok
Akhirnya setelah semua packing beres, kami coba timbang berat bawaan kami dengan menggunakan timbangan badan. Memang kurang akurat, tapi lumayanlah untuk mendapatkan gambaran. Ternyata total berat bagasi kami tidak lebih dari 30 kg per piece, berarti sesuai ambang batas berat bagasi yang ditetapkan oleh Emirates.
Selanjutnya kami menyiapkan rumah kami untuk ditinggalkan selama tiga minggu, seperti mencabut semua stekker yang masih menancap di stop kontak, menutup semua jendela rumah, mematikan listrik yang tidak perlu, mengunci semua pintu kamar, dsb. Satu hal yang susah untuk dititipkan adalah peliharaan seperti kucing dan ikan hias, siapa yang kana meberi mereka makan? Selain itu saya memiliki sederetan tanaman agglonema dan anthurium yang sedang subur-suburnya. Siapa yang akan menyiram tanaman tsb.?
Hal ini lah yang seharusnya diantisipasi dari awal. Untungnya kakak saya berbaik hati untuk menjaga rumah kami selama kami bepergian.
Tepat jam 19.30 sesudah makan malam dan sholat Isya kami berangkat dengan mengendarai mobil dari Depok menuju Soekarno-Hatta International Airport, Cengkareng (CGK) dengan transit sejenak di daerah Tanjung Duren, Jakarta, di rumah orang tua kami untuk menitipkan mobil. Perjalanan dari Depok menuju airport berlangsung lancar tanpa kemacetan/hambatan yang berarti.
Keberangkatan dari CGK
• Check-in
Kami tiba di Soekarno-Hatta International Airport, Cengkareng (CGK) jam 22.30, kurang lebih 2 jam sebelum keberangkatan pesawat EK-359 menuju Dubai International Airport (DXB). Saat check-in kami mencoba minta diberikan tempat duduk dekat jendela, namun rupanya pihak travel tempat kami membeli tiket sudah mengatur tempat duduk kami agar berjejer empat orang di barisan tengah. Namun demikian ada bagusnya juga karena toh malam-malam begini tidak banyak yang bisa dilihat di luar jendela pesawat.

Selanjutnya setelah proses check-in yang tidak terlalu lama dan membayar airport tax Rp. 150.000 per orang, kami diberi 2 buah boarding pass; satu untuk keberangkatan dari CGK dan satu untuk keberangkatan dari DXB menuju tujuan akhir (London Heathrow Airport, LHR).
• Pengurusan Bebas Fiskal & Imigrasi
Berikutnya adalah pengurusan bebas fiscal untuk kami sekeluarga. Berhubung saya dan suami masing-masing memiliki nomor NPWP sendiri, maka copy kartu keluarga yang kami bawa menjadi tidak diperlukan lagi. Lega rasanya tidak perlu lagi bayar fiscal bila ke luar negeri seperti dulu…
Selesai dari loket Ditjen Pajak, kami mengisi kartu keberangkatan dan antri untuk pemeriksaan imigrasi. Di loket Imigrasi inipun proses pemeriksaan berlangsung cepat dan lancar. Sesudah semuanya beres, kami berharap masih bisa melihat-lihat toko duty free yang ada di Terminal 2D untuk menghalau rasa kantuk yang mulai menyerang. Maklum, pesawat menuju Dubai yang akan kami tumpangi memiliki jadwal take-off jam 00.20 dini hari tanggal 20 Juni 2010.
Sayangnya harapan kami tidak terwujud karena pada jam 23.15 saat itu semua toko dan lounge yang ada di Terminal 2D sudah tutup. Alhasil kami hanya bisa berfoto-foto di depan toko-toko tsb…..

• Menuju Ruang Tunggu
Pada pemeriksaan X-ray terkahir sebelum memasuki ruang tunggu, bawaan kami ke kabin diperiksa lagi. Kali ini pemeriksaan cukup ketat seperti di luar negeri. Terbukti botol aqua yang kami coba bawa untuk menjaga agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik selama 8 jam penerbangan diminta oleh petugas untuk dibuang atau diminum sebelum masuk ruang tunggu, sesuai aturan penerbangan pasca 9/11. Terpaksalah semua persediaan air kami keluarkan dan kami minum di depan petugas.
Selanjutnya kami langsung menuju ruang tunggu yang sudah penuh sesak dengan calon penumpang Emirates. Alhasil kami hanya bisa berdiri dekat pintu menuju garbarata sambil menunggu waktu boarding yang masih 30 menit lagi!
Jakarta - Minggu, 20 Juni 2010
Boarding CGK
Proses boarding ke pesawat Airbus A-380 berlangsung tertib dan teratur dilakukan tepat jam 00.00. Penumpang yang membawa anak-anak dan bayi diperbolehkan masuk ke pesawat lebih dahulu. Saat masuk kami disambut ramah oleh kru pesawat Emirates yang kebanyakan “bule” berkebangsaan Inggris dengan seragam khas pramugari Emirates.
Pesawat berbadan lebar buatan Perancis dan UE ini terasa lega dan lapang dengan formasi tempat duduk 3 jejer di kanan-kiri jendela serta 4 jejer tempat duduk di tengah. Alat hiburan yang disediakan cukup bervariasi dan nyaman dengan menggunakan layar touch screen. Adapun fasilitas in-flight entertainment yang disediakan meliputi film, lagu, berita juga sarana untuk mengirim email (yang terakhir ini bayar). Disamping itu, ada fasilitas untuk dapat memantau keadaan di luar pesawat dari kamera yang dipasang di bagian ekor belakang, bawah dan hidung pesawat. Pandangan dari kamera-kamre tsb dapat dipantau di layar monitor setiap penumpang.
Sebelum pesawat lepas landas, pramugari membagikan handuk basah hangat kepada para penumpang. Setelah itu para kru bersiap di kursi masing-masing untuk lepas landas. Tepat jam 00.40 pesawat Emirates yang kami tumpangi lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, goodbye Jakarta!
Penerbangan CGK-DXB
Dalam pesawat kami duduk di seat 8C, 8D, 8E,8F, terkantuk-kantuk tapi tidak bisa tidur dengan baik. Waktu tempuh perjalanan 8 jam menuju Dubai terasa sangat panjang. Namun dengan pesawat berbadan lebar jenis Airbus A-380 disertai makanan inflight entertainment yang keren (jadi membandingkan apa yang pernah didapat dari SQ, Qantas, Cathay, British Airways dan tentu saja Garuda) membuat perjalanan cukup menyenangkan dan dapat dinikmati.
Dalam menikmati inflight entertainment, kami punya selera yang berbeda. Suami saya, Adji, menikmati beberapa film baru yang belum pernah ditonton diantaranya Twilight saga yang dibintangi actor dan artis muda. Sedangkan saya malas menonton film dan lebih senang mendengarkan lagu. Saya mencoba mencari hits oldies yang pernah bertengger di UK hits dari berbagai dekade. Mulai tahun 50-an, 60-an, dan seterusnya sampai hits tahun 2000-an. Di sini terpaksa saya stop karena sudah tidak banyak kenal lagi dengan lagu-lagunya.
Anak pertama kami, Feby (13 tahun) mendengarkan lagu-lagu pop rock Jepang yang banyak digandrungi anak seusianya, sementara adiknya, Anya (10 tahun) puas dengan memutar berulang-ulang film animasi Finding Nemo dan Bugs Life produksi Walt Disney – Pixar.
Dalam 8 jam perjalanan tersebut disajikan satu kali makan ringan di awal penerbangan dan satu kali makan besar sesaat sebelum mendarat di Dubai. Yang jelas selama perjalanan kami tidak kelaparan ataupun kehausan, karena set menu makanan yang diberikan cukup dari komplit mulai dari appetizer, main course, sampai dessert, disajikan dengan tampilan yang berselera dan membuat perut kenyang. Selain itu setelah makan pramugari kerap menawarkan minuman kepada penumpang. Bahkan Anya, yang terbang dengan tiket anak, mendapat hadiah mainan boneka tangan dari pramugari.
Transit DXB
Pesawat mendarat di Dubai pukul 4 pagi waktu setempat, Dubai Airport masih tampak gelap dari in-flight camera. Perbedaan waktu Dubai dan Jakarta adalah 4 jam, jadi di Jakarta saat itu sudah jam 8 pagi. Pantas saja saya tidak merasa ngantuk, padahal semalaman tidak bisa dengan baik di pesawat.
Setelah turun dari pesawat, penumpang transit beserta barang bawaan cabin-nya diperiksa X-ray kembali dan sesudahnya dipersilakan menuju ruang tunggu di Terminal 3 yang dikhususkan untuk hub pesawat Emirates.
Lega rasanya bisa berjalan-jalan setelah berjam-jam terikat dan kedinginan di kursi pesawat. Berjalan-jalan juga dimaksudkan untuk memberikan kesempatan pada kaki kami agar bergerak dan melancarkan peredaran darah.
• Terminal 3 Dubai Airport
Terminal 3 Dubai Airport ini dilengkapi dengan Musholla (praying room) serta toilet yang bagus dan bersih. Satu hal tentang toilet di DXB ini, yang membuat saya senang – seperti halnya orang Asia lainnya – adalah keberadaan toilet jongkok yang dilengkapi dengan semprotan selang air. Bagaimanapun toilet duduk kering dengan tissue di tempat umum memang kurang nyaman bagi kebanyakan orang Asia, khususnya orang Indonesia.
Sambil menunggu boarding berikutnya kami mengitari deretan Duty Free Shops di Terminal 3. Kami berniat untuk sight seeing, sebuah hasrat yang tak kesampaian di CGK airport! Suasana sangat ramai penuh dengan penumpang transit dan penumpang yang akan berangkat. Saking ramainya kompleks pertokoan tsb., tidak terasa suasana gelap mulai berganti terang di luar menandakan pagi menjelang di daerah Uni Emirate Arab.
Setelah puas melihat-lihat berbagai barang luks yang ditawarkan seperti jam tangan, parfum, alat elektronik keluaran terbaru, sampai coklat dari berbagai negara, akhirnya saya menyempatkan membeli beberapa potong coklat di salah satu toko yang khusus menjual coklat dengan uang Dirham (AED) yang dipersiapkan dari Jakarta.
Boarding DXB
Tepat pukul 7.30 waktu Dubai penumpang menuju London Heathrow dipersilakn masuk pesawat Airbus A-380 seri terbaru dengan nomor penerbangan EK-001. Seperti biasa para pramugari dan pramugara bule menyambut penumpang di depan pintu pesawat. Pesawat ini tampak masih baru dan lebih besar dengan tempat duduk yang lebih lega untuk setiap penumpang dibandingkan dengan pesawat yang membawa kami dari Jakarta menuju Dubai.
Penerbangan DXB-LHR
Cuaca cerah, pesawat meninggalkan Dubai jam 7.45 pagi waktu setempat dengan lama penerbangan 6 jam. Lagi-lagi kami mendapat tempat duduk berjejer di bagian tengah, 48D, 48E, 48F, 48G, sehingga tidak bisa mengamati pemandangan di luar pesawat.

Fasilitas in-flight entertainment yang disediakan hampir sama dengan pesawat sebelumnya. Sayangnya fasilitas informasi yang memuat data-data penerbangan seperti posisi pesawat ke tempat tujuan, perkiraan waktu kedatangan, dsb tidak bekerja dengan baik alias error sehingga kami harus menbak-nebak kira-kira berapa jam lagi pesawat sampai di London. Dalam penerbangan ini disediakan 2 kali makan, menu breaksfast dan menu lunch.
Tiba di LHR
Pesawat kami mendarat di London Heathrow jam 12 siang local time. Beberapa pesawat terlihat sedang parkir di salah satu bandara tersibuk di Eropa tsb. seperti SIA, Thai Airways, Malaysia Airlines, Air Canada, dsb. Sayang sekali Garuda belum sampai terbang kemari.
Setelah landing dan berjalan menuju imigrasi, kami mampir dulu ke toilet untuk BAK dan bersih-bersih. Perjalanan panjang serta perbedaan waktu (6 hrs behind Jakarta) sebenarnya membuat kami lelah tapi serasa mimpi kami sekeluarga mendarat di negeri orang nan jauh sudah menginjakkan kaki di London! Wow… dreams come true… Europe, here I come!
Setibanya di tempat imigrasi, antrian panjang tampak mengular. Namun kami melewati petugas imigrasi tanpa mengalami hambatan. Seorang petugas kulit hitam memeriksa visa dan memastikan 4 orang yang kini dihadapannya itu sesuai dengan foto di passport. Beberapa pertanyaan biasa seperti dalam rangka apa datang ke UK, tinggal di UK berapa lama, dan mau lanjut kemana, ditanyakan oleh petugas. Setelah itu, petugas mempesilakan kami menuju area baggage claim untuk mengambil bagasi kami.

Sesudah bagasi kami terkumpul, ada sedikit kekhawatiran petugas bea cukai akan mengauk-aduk kopor kami, seperti yang pernah saya alami di Narita Airport, Tokyo tahun 2003 ataupun yang dialami suami saya di Airport Sydney tahun 2005.. Saya merasa khawatir rendang yang saya bawa akan dibuang oleh petugas. Untungnya kekhawatiran saya tidak terjadi. Saat kami melenggang melewati garis hijau (nothing to declare), tidak ada petugas yang menaruh curiga.Jadi kami melangkah terus, alhamdulillah, ransum kami aman….he..he…

Keluar dari airport LHR menuju stasiun underground menandakan selesai sudah perjalanan panjang kami selama 14 jam dengan rute Jakarta-Dubai-London yang mengesankan dengan menggunakan pesawat Emirates.

1 komentar:

  1. Terima kasih Bun, informasinya sangat berguna buat saya yang akan berangkat beberapa hari lagi... :)

    BalasHapus